Eh berjumpa lagi kita :

Rabu, 20 April 2011

Petualangan di Negeri Maya

      Ketika sejenak kapalku berlabuh di pelabuhan negeri maya, aku melihat enam gadis kecil saling berbicara satu sama lain. Mereka seperti sedang asyik mendiskusikan sesuatu. Saat si gadis berambut ikal berbicara, si hitam manis menunjukkan wajah tidak setuju. Segala argumen terus mereka kemukakan demi mempertahankan apa yang mereka yakini benar.

      Lalu si tinggi semampai menengahi perdebatan mereka dibantu oleh si rambut pendek. Namun mereka malah terlibat dalam perdebatan si ikal dan si hitam mani, jadilah mereka berempat saling mengeluarkan argumen dan terus berusaha membela keyakinan mereka.

      Yang paling muda seperti tidak sabar melihat perdebatan teman-temannya berkata ingin pergi, namun si kaca mata melarangnya. Lama si kaca mata dan yang muda menunggu ujung perdebatan mereka, tapi mereka berempat masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai. Mereka berempat malah semakain seru dalam mempertahankan keyakinan masing-masing.
Dengan ketidaksabaran si paling muda, dia berteriak “TAK BISAKAH KALIAN BERHENTI BICARA SEBENTAR?” Si rambut hanya menjawab "Baiklah,” diikuti anggukan kepala yang lainnya.

      “Tak bisakah kalian bicara baik-baik dan mencoba saling menghargai pendapat satu sama lain?” Tanya si kaca mata. Setelah perkataan si kaca mata tadi, mereka berenam mencoba saling menghargai pendapat satu sama lain. Sampai akhirnya mereka menemui kesepakatan.

       Tahukah kalian apa yang sebenarnya mereka perdebatkan? Perdebatan seru itu sebenarnya hanyalah menentukan kemana mereka akan pergi bersama untuk mengisi hari libur mereka. Hahaha, melihat hal itu membuatku berfikir betapa mudahnya kita berselisih hanya karena masalah sepele. Namun melihat keenam gadis kecil itu menyelesaikan masalah mereka dengan dewasa, dengan mencoba mengerti dan menghargai pendapat satu sama lain, membuat diriku merasa malu.

Kamis, 07 April 2011

Penghujat Dari Beningnya Air Mata

Kusimak dengan seksama setiap kata-katamu
Meski kau berada di mimbar depan sana
Saat-saat seperti inilah yang selalu aku cari-cari
Meski sebagian orang yang berdiri di tempatmu sana
Kebanyakan sama, apa yang mereka lontarkan
Tuan,,,
Tuan, semburkan petuah muliamu pada kami
Aku yakin, kau bijak, kau teragungkan di antara sesamamu
Kami hanyalah serdadu yang hanya boleh patuh kepada atasan
Mari Tuan Mulia, sebelum raga ini dikecup moncong senapan
Setiap kalimatmu mengalirkan pengampunan untuk kami
Tuan, Tuan,,,
Lekas Tuan, lihat di ambang pintu gedung reyot ini
Setiap dari padanya telah terhias bedil yang haus akan korban
Jangan biarkan kami lenyap tanpa bekal darimu
Kami pun tak mau, kau menyertai kami
Setelah kami pergi, kirimkan juga petuahmu
Pada anak-anak kami, Penerus Bangsa ini...
Kau sembuhkan luka yang tak kunjung mulus, Tuan... 

By Author : EDS

Rabu, 06 April 2011

Harapan Si Fakir

Kuberdiri di depan gerbang istana
Menanti sang Raja lewat agar kucium tangannya
Tapi bukankah ia lalu-lalang di setiap harinya?
Atau, diri inikah yang sengaja luput darinya?
Lewatlah…dengan baju paling bagus yang kukenakan
Ibuku membuatkan kue paling enak menurut kelas kami,
Dari tepung yang lebih dahulu dibersihkan dari pasir
Lalu dicuci dan direndam dengan tampungan air mata kami
Muara sungai penderitaan ini telah meluber
Membanjiri segenap kota-kota hingga jadilah negeri terjajah
Kumohonkan agar kebun-kebun tulip kembali diberi kesempatan bermekar
Agar girang lagi anak-anak bermain
Agar matahari; guru yang murah senyum itu, kembali mengajar
Agar kupu-kupu, turun dari langit
Mari semua, kita menari, bila sambut kedatangan Raja
Sirnalah kesedihan begitu datang Raja yang santun ini
Tak ada kesombongan! Meski ia pantas sombong
Oh pengawal... Biarkanlah tangan yang bekas mencuri ini
Memegang tangannya yang bagai sekuntum bunga terindah
Supaya damai hatiku, dikerubungi kupu-kupu…



By Author : Ekspresi Anak Melayu